Cinta Lelaki Rapuh

Aku hanya bisa terdiam dengan sejuta kekesalan yang menumpuk didadaku.

Hujan yang turun deras malam ini seakan tak perduli apakah aku berduka atau tidak.

Selalu saja begini yang kurasakan, kesunyian kehampaan seakan tak pernah berakhir.

Ingatanku kembali kemasa 17 tahun yang lalu, perasaan ini persis sama, ku memang orang kesepian yang membutuhkan tempat sandaran untuk berbagi.

Jiwaku yang rapuh menyeret aku kelembah yang lebih dalam .

Cinta dan kasih saying telah melemahkan aku, dia sandaran hidupku malah semakin menekan aku dengan semua kegilaan dan pembangkangannya.

Haruskah aku dipersalahkan jika aku memutuskan untuk memilih mundur teratur.

Salahkah aku jika aku menginginkan perpisahan..?

Aku mungkin terlalu banyak diam,

aku terlalu banyak mengalah demi mempertahankan sebuah bahtera ini. Namun apa yang aku dapatkan..?

kegagalan.. mendidik dan memimpin biduk cintaku sendiri.

Namun bukankah seharusnya ada setitik cahaya yang namanya kedewasaan,

Dimana orangtua lebih mementingkan kebahagian anaknya dibanding egonya sendiri?

Namun cahaya itu tak jua menyinari jendela hati kami.

Kehancuran ini hanya menunggu bom waktu untuk diledakkan, dan tepat tanggal 3 Juli semuanya hancur berkeping keping. Tangisan pilu sang buah hati, putri kami tak mampu meluluhkan karang  keegoaan dihati, kecemasan dari sinar matanya seakan tiada lagi menggetarkan hati

 

Tuhan inikah kiamat untukku..?

Langit seakan runtuh, bumi seakan berhenti berputar.

kesabaran ku seakan telah sampai pada puncaknya.

Tanpa kata tanpa suara, ku pastikan langkah untuk meninggalkan semuanya.

Meninggalkan jantung hatiku, nyawa hidupku.

Meninggalkan rumahku.

Sebulan, dua bulan bahkan sekarang sudah mendekati hitungan empat bulan.

ku jalani yang namanya pisah ranjang, namun kesadaran dan kedewasaan tak jua muncul dibilik hati kami.

Perempuan ini telah menghiris hatiku

Sejuta caci, sejuta maki selalu ditebarkan buatku,

dan aku masih saja diam, memendam sejuta kekeselan dan benci.

Adakah semua ini akan berakhir..?

Tidakkah dia sadari, semuanya ini hanyalah api yang semakin membakar jiwa raga kami..?

Kekejian dan kelicikannya semakin menjadi..

mengorbankan perasaan anak yang diakui belahan jiwa untuk menyeretku

Wahai perempuanku dimana perasaanmu..?

Tidakkah kau sadar dia adalah putrimu sendiri,

tidakkah kau kasihan akan jiwanya yang memang telah terluka

malah kau manfaatkan untuk pelampiasaan dendam dan sakit hatimu.

Tuhan hanya padamu kuserahkan semuanya.

Siapa yang benar, siapa yang salah itu tak berarti lagi.

Karena kini yang tersisa hanyalah rasa sakit yang tak mungkin terobati lagi.

Hidup didunia adalah fana adanya.

semua yang benar semua yang salah pasti akan terkuak dengan sendirinya.

Tak ada yang mampu berdusta, atau memunafikananya

Lindungi Dia ya Allah, Lindungi putri kami,

Biarkanlah derita dan sakit ini hanya untukku

Jangan pernah torehkan sakit di hatinya.

Karena dunianya, hanyalah tawa canda dan bergembira saja….

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://sutanchaniago.blogsome.com/2008/10/21/cinta-lelaki-rapuh/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.